|
| Lena |
Sebagai mahasiswa tingkat hampir akhir, dimana teman-teman seangkatan pada KKN dan akunya dapat jatah KKN tahun depan, liburan kali ini terasa kurang rame. Hampir satu bulan sejak puasa hingga setelah lebaran, full kuhabiskan hari-hariku dirumah, agaknya bosan mulai menyerang. Aku memutuskan untuk kembali ke Jogja, kota perantauanku. Beberapa hari sebelum aku kembali ke Jogja, teman baikku, Lena namanya (kami berteman sejak SMP, satu angkatan denganku, dan kebetulan jarak rumah kami cukup dekat kira-kira 5 menit dari rumahku) dia menghubungiku, rupanya Lena sudah merasa bosan dengan liburannya dan juga bernasib sama denganku. Setelah ngobrol panjang lebar Lena memutuskan untuk menyusulku setelah aku sampai di Jogja nanti.
Hari Rabu 12 Juli, dia datang dari Solo naik kereta. Buat informasi saja, jadi sekarang ini, transportasi Solo-Jogja lebih cepat, murah dan mudah. Hanya dengan 8.000 rupiah saja, naik kereta Prameks, apalagi tiketnya bisa dipesan dari 7 hari sebelum pemberangkatan, dan lagi, jadwal keretanya yang hampir setiap jam ada. Stasiun yang dilalui diantaranya adalah, Balapan, Purwosari, Klaten, Maguwo, Lempuyangan, Tugu. Hari itu, pukul 11.00 pagi aku menjemput Lena dari Lempuyangan, kemudian kami makan dulu di warung geprek Pak Wage (salah satu warung Geprek favorit, tempatnya di daerah Fakultas Kehutanan UGM, susuri aja selokan mataram ambil jalan yang arah selatan) lalu kami istirahat dulu di kosku.
Oke...., tujuan kami ke Kulon Progo, untuk jalan-jalan ke dua tempat wisata, hutan Mangrove Wana Tirta dan Pantai Glagah. Ini kali pertamanya buatku pergi cuma berdua, sebagai cewe cewe rumahan, dan kami sama sama ngga tau jalan sama sekali, cuma berbekal percaya aja sama GPS dan ngga malu buat tanya orang. Aku awalnya agak ragu juga mau pergi, jauh pula "tapi, ngga ada salahnya buat dicoba".
13.00 siang kami berangkat dari Jogja. Letak kosku cuma sebelahan sama ringroad utara, jadi kami jalan dari situ lurus ke ringroad selatan, habis itu ikutin aja arah yang ada di google map. Kalau dari map, bisa dilihat kira-kira lama perjalanan ke Hutan Mangrove 1,5 jam. Selama perjalanan, kondisi jalannya menurutku sangat baik, luas, bersih dan ndak berlubang. Kalau rame atau sepi relatif lah, tergantung kondisi, kalau kami kemarin, sempat lewat jalan yang rame banget, kemudian lewat jalan yang sepi banget, rata-rata jalannya ngga begitu rame, insyaAllah aman, tetep hati-hati ya. Kami sempat bertanya dua kali, yang pertama, masih di jalan besar, kami bingung, karena kami menemukan jalan yang bercabang dan agak meragukan, dan yang kedua, kami sudah melewati penunjuk arah ke pantai congot (kalau dari ulasan yang sudah kubaca, kalau udah nemu papan nama ini tandanya sudah dekat ke tujuan) dan melewati jembatan. Kami berjalan lurus terus tapi kami ndak melihat papan petunjuk lagi, akhirnya kami bertanya dan diarahkan untuk melewati jalan kecil yang jalannya agak rusak dan kondisi jalan yang cuma disemen.
![]() |
| Jalan hampir sampai ke pintu masuk Hutan Mangrove |
Kami susuri pelan-pelan, akhirnya kami sampai tempat tujuan, ditempat itu banyak bendera (umbul-umbul) ditempat itu kami membayar retribusi 5.000 rupiah per orang dan parkir motor 2.000 (mobil: 5.000 truk/bus: 10.000). Kami ternyata masih harus melewati jembatan kayu, kemudian mengiikuti arah penunjuk jalan dan sampailah kami ke Hutan Mangrove.
Kami sampai disana sekitar pukul 15.15 sore, kebetulan ndak banyak pengunjung, karena kebetulan liburan sekolah juga hampir usai, jadi agak sepi. Kami harus berjalan kaki di sepanjang jembatan bambu untuk masuk ke lokasi hutan Mangrove, ndak jauh sih sekitar 3 menit dengan berjalan santai.
Suasanya sore disana syahdu dengan sepoi-sepoi angin laut, panas matahari yang juga udah ngga begitu panas, seru laah buat santai santai sambil berfoto foto, hehehehehe. Kalau menurutku yang bisa dinikmati dari Hutan Mangrove ini, udaranya yang segar, pemandangannya yang hijau dipadukan dengan air laut, terlihat sejuk dimata, bagi kalian yang suka hunting foto, disini bagus baget buat foto-foto apalagi sudah disediakan spot untuk berfoto. Sejauh yang aku lihat, kebanyakan pengunjung kesana untuk berfoto-foto, tapi kami sempat juga kok duduk santai di jembatan bambu sambil menikmati udara segarr...
![]() |
| Jembatan Utama |
![]() |
| ada kapalnya juga |
![]() |
| bisa naik lho... |
Puas menikmati sejuknya pemandangan di Hutan Mangrove, kami bergegas ke destinasi selanjutnya. Dengan rasa percaya diri tingkat tinggi, kami pergi hanya mengandalkan ingatan tanpa melihat map. Akhirnya kami melenceng dari jalan awal, tapi malah menemukan jalan baru yang lebih mudah dan lebih dekat untuk mencapi jalan utama (jalan raya) yang sebenarnya sudah kami lewati pas kami berangkat tadi, dan sudah ada kertas penunjuk jalannya.
![]() |
| Jalan masuk yang kami temukan |
Saran dariku, kalau kalian mau ke Hutan Mangrove, setelah melewati papan penunjuk arah ke pantai congot yang terbuat dari besi, kemudian jalan lurus sudah lewat jembatan, teruslah berjalan pelan di lajur kiri sampai melihat ada tulisan penunjuk arah dari kertas, kardus, atau tripleks, nah habis itu langsung belok kiri saja, jangan jalan jauh-jauh lagi.
![]() |
| Muka-muka kegirangan |
Seruuuu lah perjalanan kami, boleh dicoba. Kalau dari UGM ngga begitu jauh kok, tapi tetap hati-hati ya, waspada!
Semoga bermanfaat dan selamat jalan-jalan.
Kalau ada saran atau informasi terkait yang aku tulis boleh kok komentar dibawah, atau mau berbagi pengalaman juga boleh bangettt :)
Kalau ada saran atau informasi terkait yang aku tulis boleh kok komentar dibawah, atau mau berbagi pengalaman juga boleh bangettt :)










Komentar
Posting Komentar