Virus COVID-19 (2019-nCoV) muncul pada bulan Desember 2019 pertama kali di Kota Wuhan Cina, dan menyebar ke seluruh penjuru dunia hingga kini masih ditetapkan sebagai Pandemi. Indonesia menetapkan Pandemi COVID-19 sejak bulan Maret 2020, dengan munculnya 2 pasien terkonfirmasi positif tertular dari seorang warga negara Jepang. Himbauan untuk memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari perkumpulan, tak pernah absen terdengar sekalipun. Hingga tulisan ini dibuat, kasus terkonfirmasi positif COVID-19 dan angka kematian di Indonesia masih meningkat. Virus satu ini membawa dampak tidak hanya pada sektor kesehatan, tapi semua sektor, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan.
Long story short, aku dan 70 temanku adalah perawat muda yang bulan Januari kemarin mengambil sumpah Ners. Setelah itu kami harus mengikuti Uji Kompetensi (UKOM), untuk mendapatkan Surat Tanda Register (STR). STR ini adalah surat ijin bahwa kami memiliki lisensi untuk terjun ke klinis. Kami terjadwal mengikuti UKOM bulan Maret 2020 di Jogja, namun karena kondisi pandemi, terpaksa ditunda hingga bulan Juli 2020. Sebagian besar dari kalian juga pasti merasakan, daftar rencana, kegiatan, target yang sudah jauh-jauh hari dirancang sedemikian rupa terpaksa harus dirubah, ditunda, bahkan dibatalkan. Tidak ada yang menyangka kondisi seperti ini akan terjadi. Namun yakin lah, Allah pasti memiliki rencana terbaik untuk kita. Sabarr... we are all in this together gais!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
22 Juli 2020
Hasil pantauan seminggu terakhir, kondisi penambahan kasus covid di daerahku semakin meningkat, bahkan menembus angka 50 kasus lebih. Peningkatan yang sangat drastis, bahkan sebelumnya belum pernah angka sebesar itu muncul di laporan kasus harian. Desas-desus terdengar dari kampus, kami yang berasal dari daerah zona merah atau yang tidak tinggal dalam dua minggu terakhir di Jogja, diminta untuk melakukan rapid test. Pagi itu, aku berangkat ke RSUD Karanganyar untuk melakukan rapid test. Pertama-tama aku menuju loket pendaftaran, kemudian membayar tagihan, lalu diarahkan ke laboraturium untuk pengambilan sampel darah, dan terakhir melakkukan pemeriksaan kesehatan di Poli Umum. Tiga jam lamanya ku menunggu untuk semua proses ini.
24 Juli 2020
Pagi-pagi aku berangkat ke Jogja sendiri dengan kendaraan pribadi. Sengaja untuk berangkat H-1 ujian supaya bisa melihat lokasi ujian dan tidak kelelahan di perjalanan.
25 Juli 2020
Hari ujian berlangsung. Kebetulan aku kebagian shift siang. Pihak lokasi dan penyelengara ujian sudah menetapkan protokol pencegahan COVID-19. Sebelum masuk gedung kami diperiksa suhu tubuhnya, mencuci tangan dengan sabun. Sebelum memasuki ruang karantina, kami diberi masker medis dan diukur suhu tubuhnya juga, kursi sudah tertata berjarak. Sebelum memasuki ruang ujian kami juga dibagikan gloves, didalam ruang ujian posisi duduk kamipun juga berjarak.
26 Juli 2020
Hari terakhir di Jogja. Selama di Jogja aku memang mengunjungi beberapa tempat keramaian (ada 4 tempat). Ke mall sekali itupun cuma 15 menit terhitung dari masuk parkiran sampai keluar tapi kebetulan pas jam ramai pengunjung. Ya, ngga tau juga apakah yang ku temui selama itu aman dari virus,
== Self quarantine ==
Sehari sebelum berangkat memang sudah berdiskusi dengan bapak dan ibu, setelah dari Jogja mau karantina mandiri. Jadi, semua kebutuhan, barang-barang dan ruangan sudah dipersiapkan:
1. Ruangan
Ruang karantinaku berada di lantai 2. Sirkulasi udara sangat baik, di sebelah selatan terdapat jendela kaca besar dan di sebelah utara terdapat lubang ventilasi semuanya menghadap keluar rumah. Cahaya matahari bebas masuk. Sedikit kurang nyaman karena ketika siang hari panas menyengat dan malam hari udara dingin mudah masuk. Kebetulan ada kamar mandi di dekat kamar, jadi ngga harus naik turun dan tetap bisa mengurangi interaksi dengan orang lain.
2. Barang-barang
Barang-barang yang kubawa selama karantina mandiri adalah: perlengkapan mandi, baju ganti (cuci baju sendiri terpisah), perlengkapan tidur (kasur, bantal, guling, selimut, boneka), skin care, makanan dan minuman, buku bacaan, cat air, alat tulis, note book, laptop, perlengkapan ibadah, surgical mask, face shield, hand rub, disinfektan spray, speaker, dan matras yoga. Ada tanaman yang kubawa naik juga soalnya kalau dibawah ndak ada yang ganti air.
3. Kebutuhan
Kebutuhan istirahat, sepanjang hari aku ada di kamar ya most of my time adalah untuk istirahat, tidur, dan rebahan di kasur. Makan, ibuku menyiapkan buah dan makanan ringan, waktu makan kalau lapar biasanya aku turun ke dapur lewat tangga belakang, ambil makanan, dibawa naik, cuci piring sendiri setelah makan, sebisa mungkin dipisahkan dengan alat makan anggota keluarga lain. Mandi, tetep menjaga kebersihan tubuh, sehari 2 kali pagi dan sore, setelah mandi pakai skin care, karena kebetulan kondisi cuaca yang panas dan dingin, kulitku jadi kering, jadi harus banyak minum air putih dan pakai pelembab kulit. Olahraga, walaupun aktivitas terbatas di kamar tetep wajib olahraga, biasanya sore workout dan baru dibiasakan yoga tiap pagi, sambil lihat tutorial di youtube 😀. Entertainment, aku menikmati waktu sendiriku, rasanya me time tiap hari wkwkwkkw, bisa nonton drama korea, nonton film, buka youtube, dengerin musik, nulis, browsing, melukis, membaca buku, bahkan belajar 😁. Karena kaktus dan sukulen ada di atas juga, tiap pagi aku bisa liatin mereka satu-satu sambil berjemur bersama. Interaksi, masih bisa ngobrol sama keluarga, aku diatas, mereka di bawah, jadi kami terpisah jarak, sama pacar? setiap hari kami chatting sesekali video call, sama halnya ngobrol sama teman.
Sebelum keluar kamar, harus pake APD dulu hehehe, pakai masker, face shield, cuci tangan, barulah keluar kamar buat ambil makanan atau melakukan hal lain yang memang perlu dilakukan.
Mungkin akan muncul pertanyaan, "jenuh ngga? bosen ngga?" jalan seminggu ini lumayan kerasa sih, lebih ke karena ruang geraknya terbatas dan ngga bisa bebas melakukan hal yang ingin dilakukan. Karena aku pernah hampir 6 tahun kos di Jogja, ini berasa di kamar kos. Pada dasarnya selama Pandemi ini aku juga di rumah aja, jadi yaa sudah enjoy saja. Oiya, untuk mengurangi rasa bosan, setiap hari aku tulis list kegiatanku apa aja.
"Kamu berlebihan deh.. kan yang penting ngga kontak langsung dengan pesakit, kan ngga ada tanda gelaja sakit" ada ngga yang beranggapan gini?. Oke, we never know, selama kita berada di luar siapa orang yang sakit atau mungkin mereka carrier atau orang tanpa gejala. Walaupun sudah sebisa mungkin aku menjaga diri dan melalukan protokol pencegahan. Disisi lain ada alasan yang sudah ku jabarkan diatas. Nyatanya banyak juga orang yang tanpa gejala mereka merasa sehat tapi setelah di cek ternyata terkena covid-19.
Selama kurang lebih 14 hari ini adalah masa observasi. Setiap hari aku melakukan pengukuran suhu tubuh alhamdulillah hasilnya dalam rentang normal, di angka 36,3-36,8 derajat celcius, tidak ada tanda gangguan pernapasan, atau gangguan kesehatan lain. Ini caraku menjaga diri sendiri dan orang sekitarku. Aku percaya cara ini baik dan orang disekitarku memberikan support.
Stay safe, be happy and be healthy everyone.....
Komentar
Posting Komentar